Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab dalam Memahami Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Salah satu hal yang paling menonjol dari Al-Qur’an adalah pemilihan bahasa Arab sebagai medium penyampaian wahyu. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Bahasa Arab memiliki kedalaman makna, kekayaan kosakata, dan keindahan balaghah yang menjadikannya tepat untuk menyampaikan pesan ilahi.

Bagi umat Islam, memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan terjemahan. Sebab, banyak makna yang bisa berubah atau bahkan hilang ketika diterjemahkan. Oleh karena itu, mempelajari bahasa Arab menjadi kunci utama untuk memahami kitab suci ini dengan benar. Bahkan, para ulama sejak generasi salaf menekankan pentingnya bahasa Arab, bukan hanya untuk membaca Al-Qur’an, tetapi juga untuk memahami hadis dan ilmu-ilmu agama lainnya.


Artikel ini akan membahas pentingnya bahasa Arab dalam memahami Al-Qur’an dan sunnah. Kita akan melihat bagaimana para ulama terdahulu menaruh perhatian besar terhadap bahasa Arab, sampai-sampai mereka menuliskan pesan khusus tentang urgensinya. Selain itu, kita juga akan menyinggung kisah-kisah ulama besar yang pada awalnya terganjal karena kelemahan berbahasa, namun akhirnya justru menjadi pakar nahwu dan bahasa Arab.

أَنزَلَ اللهُ عزَّ وجَلَّ القُرآنَ الكريمَ؛ تلك المُعجِزةَ الخالِدةَ، فجَعَلَها باللُّغةِ العَرَبيَّةِ. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang abadi dalam bahasa Arab.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [Yusuf: 2]

dan berfirman pula:

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ [Asy-Syu’ara: 195]

Dengan demikian, bahasa Arab menjadi sarana pokok untuk memahami, mentadabburi, dan menghayati makna Al-Qur’an.

Perhatian Salaf terhadap Bahasa Arab

Para ulama salaf memandang belajar bahasa Arab sebagai bagian dari agama. Umar bin Khattab r.a. pernah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a. yang berbunyi:

أَمَّا بَعْدُ؛ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ، وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ، وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ، وَتَمَعْدَدُوا؛ فَإِنَّكُمْ مَعَدِّيُّونَ[1]

Ubay bin Ka’b r.a. juga berpesan:

تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ[2].

Bahkan Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a. mendidik anak-anak mereka dengan menegur dan menghukum jika keliru berbahasa (lahan).

Bahasa Arab sebagai Dasar Ilmu

Ibnu ‘Athiyyah menegaskan:

إعرابُ القُرآنِ أصلٌ في الشَّريعةِ؛ لأنَّ بذلك تقومُ معانيه التي هي الشَّرعُ[3]

Demikian pula ‘Amir Asy-Sya’bi berkata:

النَّحْوُ فِي الْعِلْمِ كَالْمِلْحِ فِي الطَّعَامِ لَا يُسْتَغْنَى عَنْهُ[4]

Para ulama hadits dan qira’ah pun memulai dengan mempelajari nahwu sebelum mendalami hadis. Waki’ bin al-Jarrah berkata:

أَتَيْتُ الْأَعْمَشَ أَسْمَعُ مِنْهُ الْحَدِيثَ، وَكُنْتُ رُبَّمَا لَحَنْتُ، فَقَالَ لِي: يَا أَبَا سُفْيَانَ، تَرَكْتَ مَا هُوَ أَوْلَى بِكَ مِنَ الْحَدِيثِ… فَقَالَ: النَّحْوُ[5]

Kisah lain menyebutkan, Sibawaih ketika belajar hadis pada Hammad bin Salamah, ia pernah melakukan kesalahan bahasa. Maka ia pun bertekad mendalami ilmu nahwu hingga menjadi pakar besar di bidangnya[6].

Kesimpulan dan Pesan Ulama

Syubrah bin Hajjaj bahkan menegaskan:

مَنْ طَلَبَ الْحَدِيثَ فَلَمْ يُبْصِرِ الْعَرَبِيَّةَ، فَمَثَلُهُ مَثَلُ رَجُلٍ عَلَيْهِ بُرْنُسٌ وَلَيْسَ لَهُ رَأْسٌ[7]

Ibnu Taimiyah pun menyimpulkan: belajar bahasa Arab adalah kewajiban kifayah. Menurut beliau, menjaga kelestarian bahasa Arab berarti menjaga pemahaman terhadap kitab dan sunnah[8].

Daftar Catatan Kaki

  1. Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf (30534).
  2. Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf (30535).
  3. Ibnu ‘Athiyyah, Tafsir al-Muharrar al-Wajiz, 1/40.
  4. Al-Khatib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi, 2/28.
  5. Al-Khatib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi, 2/26.
  6. As-Sirafi, Akhbar an-Nahwiyyin al-Basriyyin, hlm. 35.
  7. Al-Khatib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi, 2/26.
  8. Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 32/252.

Tinggalkan komentar