Pembagian Jumlah dapat didasarkan pada permulaan sususan kata tersebut.
Setelah mengetahui pengertian Jumlah dalam Nahwu, mari kita kaji pembagiannya. Jumlah dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan unsur yang menjadi inti atau ‘penggerak’ kalimat.
Kajian ini membantu pemula memahami bagaimana kalimat Arab terbentuk dari kata benda, kata kerja, atau kata keterangan sebagai inti kalimat.
Selanjutnya, kita akan melihat bagaimana para ahli membagi al-Jumlah menjadi tiga kategori utama.
Pembagian Jumlah Menurut Unsur Inti
Secara klasik, al-Jumlah dibagi menjadi tiga jenis tergantung unsur yang menjadi inti atau yang disebut al-ṣadr (صدر): nama, fi‘il, atau zarf.
ش: {ثُمَّ} الجُمْلَةُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الاسْمِيَّةِ، وَعَدَمِهَا ثَلَاثَةُ أَقْسَامٍ:
29 – لِأَنَّهَا: {إِنْ صَدَرَتْ بِاسْمٍ} وَصْفًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ – كَمَا مَرَّ – {وَلَوْ} كَانَ {مُؤَوَّلًا} مِنْ (أَنْ) وَالفِعْلِ، نَحْو: “وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ”، أَي صَوْمُكُمْ – {فَاسْمِيَّةٌ}، بِالنَّصْبِ، أَي سُمِّيَ ذَلِكَ. نُسِبَتْ إِلَى الاسْمِ لِتَصَدُّرِهَا بِهِ.
1. Al-Jumlah Ismiyah
Kalimat disebut ismiyah jika inti kalimat adalah nama (mubtada’ atau sejenisnya). Contohnya termasuk yang dimulai dengan kata benda atau kata ganti, baik berupa deskripsi maupun kata benda lain. Misal: “وأن تصوموا خير لكم” (Dan berpuasa itu lebih baik bagi kalian) dianggap ismiyah karena inti maknanya berupa nama atau konsep.
30 – {أَوْ}: صَدَرَتْ {بِفِعْلٍ}، كَمَا مَرَّ، وَكَيَقُومَ زَيْدٌ – وَلَا فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَكُونَ مُتَصَرِّفًا أَوْ جَامِدًا، تَامًّا أَوْ نَاقِصًا – {فَفِعْلِيَّةٌ}. كَذَلِكَ نُسِبَتْ إِلَى الفِعْلِ لِتَصَدُّرِهَا بِهِ.
2. Al-Jumlah Fi‘liyah
Kalimat disebut fi‘liyah jika inti kalimat adalah kata kerja. Contoh: “قُمْ زَيْدٌ” (Bangunlah Zaid) atau “قام زيد” (Zaid berdiri). Baik kata kerja itu berubah bentuk atau tetap, lengkap atau tidak lengkap, tetap dikategorikan sebagai fi‘liyah karena inti maknanya berasal dari kata kerja.
31 – {أَوْ}: صَدَرَتْ {بِظَرْفٍ} مُعْتَمِدٍ عَلَى مَا سَيَأْتِي، نَحْو: أَعِنْدَكَ أَوْ فِي الدَّارِ زَيْدٌ – {فَطَرَفِيَّةٌ}. كَذَلِكَ نُسِبَتْ إِلَى الظَّرْفِ لِتَصَدُّرِهَا بِهِ.
3. Al-Jumlah Zarfiyah
Kalimat disebut zarfiyah jika inti kalimat adalah kata keterangan (zarf) yang bergantung pada apa yang akan datang dalam kalimat. Contoh: “أعندك زيد” (Apakah Zaid di tempatmu?) atau “في الدار زيد” (Zaid berada di rumah). Di sini, kata keterangan menjadi inti yang memengaruhi struktur kalimat.
Al-Ṣadr dan Jumlah dzatu Wajhain
Dalam kajian Nahwu, memahami inti kalimat atau al-Ṣadr (الصَّدْر) sangat penting. Al-Ṣadr menentukan jenis kalimat dan makna yang ingin disampaikan. Selain itu, beberapa kalimat dapat memiliki dua wajah (Jumlah dzatu wajhain), yang memerlukan pemahaman khusus.
Definisi Al-Ṣadr
وَالْمُرَادُ بِالصَّدْرِ: الْمُسْنَدُ، أَوِ الْمُسْنَدُ إِلَيْهِ. وَالْمُعْتَبَرُ: مَا هُوَ صَدْرٌ فِي الْأَصْلِ. كَالْفَقِيرِ وَالْمَسْكِينِ فِي اصْطِلَاحِ الْفُقَهَاءِ، وَنَظِيرُ ذَلِكَ: الْإِسْلَامُ وَالْإِيمَانُ، وَالْمُشْرِكُ وَالْكَافِرُ.
Al-Ṣadr adalah unsur inti kalimat, baik berupa **predikat yang disandarkan (musnad)** atau **subjek/pelaku (musnad ilayh)**. Yang dianggap sah adalah unsur yang menjadi inti kalimat secara asli. Contohnya: orang miskin dan fakir (الفقير والمسكين), Islam dan Iman (الإسلام والإيمان), atau musyrik dan kafir (المشرك والكافر).
Prinsip Penentuan Al-Ṣadr
ش: {وَالْمُرَادُ بِالصَّدْرِ}: الْمَفْهُومُ مِنَ الْفِعْلِ {الْمُسْنَدِ} مُطْلَقًا، {أَوِ الْمُسْنَدُ إِلَيْهِ} – فِي الاسْمِيَّةِ – لَا غَيْرَ. فَلَا يَضُرُّ فِي التَّسْمِيَةِ: مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْحُرُوفِ لِغَرَضٍ مَا وَلَوْ غَيْرَ الإِعْرَابِ وَالْمَعْنَى.
Al-Ṣadr adalah inti kalimat yang berasal dari kata kerja atau subjek dalam kalimat ismiyah. Kehadiran huruf tambahan di awal kalimat (misal هل atau قد) tidak mengubah status al-Ṣadr.
Contoh Al-Ṣadr dalam Kalimat
فَنَحْوُ: هَلْ أَوْ قَدْ قَامَ، أَوْ يَقُومُ زَيْدٌ – جُمْلَةٌ فِعْلِيَّةٌ. وَكَذَلِكَ نَحْوُ: “فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا”. وَنَحْوُ: هَلْ قَائِمُ زَيْدٌ، أَوْ إِنْ زَيْدًا قَائِمٌ – جُمْلَةٌ اسْمِيَّةٌ.
Contoh fi‘liyah: هل قام، قد قام، يقوم زيد → Zaid berdiri atau “Bangun!”.
Contoh ismiyah: هل قائم زيد، إن زيدًا قائم → Zaid berdiri. Huruf tambahan tidak memengaruhi jenis inti kalimat.
Jumlah dzatu Wajhain (جملة ذات وجهين)
وَقَدْ تَكُونُ الْجُمْلَةُ ذَاتَ وَجْهَيْنِ: اسْمِيَّةٌ الصَّدْرُ، فِعْلِيَّةٌ الْعَجْزُ، كَزَيْدٌ يَقُومُ أَبُوهُ. وَفِي الْمَغْنَى: يَنْبَغِي أَنْ يُزَادَ عَكْسُ ذَلِكَ، نَحْوُ: ظَنَنْتُ زَيْدًا أَبُوهُ قَائِمٌ.
Beberapa kalimat termasuk Jumlah dzatu wajhain, yang berarti kalimat memiliki dua sisi: inti kalimat ismiyah tetapi bagian lain berbentuk fi‘liyah. Contoh: زيد يقوم أبوه → Zaid berdiri, ayahnya. Dalam beberapa teks, disarankan membuat versi kebalikan: ظننت زيدا أبوه قائم → Saya kira Zaid, ayahnya berdiri.
Kesimpulan
Al-Jumlah dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan unsur inti: ismiyah (nama), fi‘liyah (kata kerja), dan zarfiyah (kata keterangan). Mengetahui inti kalimat (al-ṣadr) membantu menentukan jenis al-Jumlah, sehingga pemula dapat memahami struktur kalimat Arab secara sistematis dan mempersiapkan diri untuk kajian lebih lanjut dalam ilmu Nahwu.