Tarkib Mazji adalah bagian nomer 5 dari jenis-jenis Murakkab atau susunan kata dalam bahasa Arab. Kali ini kita akan membahasnya secara detil.
المركب المزجي
Al-murakkab al-mizaji disebut juga “susunan lebur”, karena dua kata digabungkan menjadi satu kesatuan bunyi dan makna yang utuh, seolah membentuk satu kata baru.
Artinya, murakkab mizaji adalah gabungan dua kata yang dilebur hingga menjadi satu bentuk tunggal, contoh Tarkib Mazji adalah بعلبك (Ba‘labak), بيت لحم (Bait Lahm), حضرموت (Hadhramaut), atau ungkapan seperti صباح مساء (pagi sore) dan شذر مذر (berserakan ke mana-mana).
Jika susunan ini digunakan sebagai ‘alam (nama), maka ia di‘rab seperti isim ghair munsharif — yaitu tidak menerima tanwin dan hanya dapat dijar dengan huruf harf jar.
سكنتُ بيت لحم.
سافرتُ إلى حضْرموْت.
Contoh:
- بعلبكْ بلدةٌ طيبةُ الهواء — Ba‘labak adalah kota yang udaranya sejuk.
- سكنتُ بيت لحم — Aku tinggal di Bait Lahm.
- سافرتُ إلى حضْرموْت — Aku bepergian ke Hadhramaut.
Namun, bila bagian kedua dari susunan tersebut berupa kata ويه, maka kata itu selalu mabni atas kasrah, tidak berubah dalam segala keadaan.
رأيتُ سيبويه عالماً كبيراً.
قرأتُ كتاب سيبويه.
Contoh:
- سيبويه عالمٌ كبيرٌ — Sibawaih adalah ulama besar.
- رأيتُ سيبويه عالماً كبيراً — Aku melihat Sibawaih sebagai seorang ulama besar.
- قرأتُ كتاب سيبويه — Aku membaca kitab Sibawaih.
Jika murakkab mizaji bukan nama diri, maka kedua bagiannya dibina di atas fathah, seperti pada ungkapan:
أنت جاري بيت بيت.
Contoh:
- زُرْني صباح مساء — Kunjungilah aku pagi dan sore.
- أنت جاري بيت بيت — Engkau adalah tetanggaku dari rumah ke rumah.
Perbedaan Murakkab Mazji dengan Murakkab Idhafi
Meskipun sama-sama terdiri dari dua kata, murakkab mizaji dan murakkab idhafi (susunan genitif atau kepemilikan) memiliki perbedaan mendasar dalam struktur dan fungsi gramatikalnya.
1. Dari sisi struktur
Pada murakkab idhafi, dua kata masih berdiri sebagai dua unsur terpisah:
yang pertama disebut mudhaf (kata yang dihubungkan), dan yang kedua disebut mudhaf ilaih (kata yang dihubungi).
Contoh: كتابُ الطالبِ — “buku siswa”.
Di sini, كتابُ adalah mudhaf, dan الطالبِ adalah mudhaf ilaih yang selalu majrur.
Sedangkan pada murakkab mizaji, kedua kata dilebur menjadi satu kesatuan yang tidak lagi bisa dipisahkan secara nahwiyah.
Ia dianggap satu kata tunggal, seperti بعلبك (Ba‘labak) atau حضرموت (Hadhramaut).
Tidak ada lagi hubungan idhafah di dalamnya, melainkan perpaduan fonetik dan makna yang menyatu.
2. Dari sisi i‘rab
Dalam murakkab idhafi, hanya unsur kedua (mudhaf ilaih) yang mendapat tanda i‘rab jar.
Unsur pertama (mudhaf) menyesuaikan fungsi kalimatnya — bisa marfu‘, manshub, atau majrur.
Namun pada murakkab mizaji, i‘rab diterapkan pada seluruh kata yang telah menjadi satu.
Jika ia berupa ‘alam, maka dihukumi seperti ghair munsharif; jika bukan, maka biasanya dibina di atas fathah (mabni ‘ala al-fath).
3. Dari sisi makna
Murakkab idhafi menunjukkan hubungan kepemilikan, penjelasan, atau keterkaitan makna antara dua kata — seperti “buku siswa”, “pintu masjid”, “cahaya bulan”.
Sedangkan murakkab mizaji tidak mengandung hubungan semacam itu.
Keduanya menyatu menjadi satu entitas leksikal baru, sering kali menjadi nama tempat, nama orang, atau ungkapan tetap.
Contohnya: سيبويه (Sibawaih), yang bukan berarti “bau ayah” meski secara asal katanya terdiri dari “si” (bau) dan “bawaih” (ayah).
Kesimpulan
Murakkab mizaji menampilkan keunikan dalam bahasa Arab karena melebur dua kata menjadi satu struktur yang berfungsi seperti satu isim tunggal. Apabila ia menjadi nama tempat atau tokoh, maka hukumnya mengikuti ghair munsharif.
Namun jika bukan nama diri, maka kedua bagiannya bersifat mabni ‘ala al-fath. Bentuk ini memperlihatkan keindahan dan fleksibilitas bahasa Arab dalam menggabungkan makna tanpa kehilangan kejelasan gramatikalnya.