Ilmu nahwu menjadi fondasi penting dalam memahami bahasa Arab. Dari sinilah seseorang bisa membaca Al-Qur’an, hadis, dan kitab-kitab ulama dengan tepat tanpa tergelincir kesalahan makna. Dalam tradisi keilmuan Islam, ada satu kitab ringkas yang menempati posisi istimewa: Matn al-Ājurūmiyyah. Kitab ini sudah berabad-abad dipelajari, dihafalkan, dan diajarkan dari generasi ke generasi.
Banyak pesantren dan madrasah menempatkannya sebagai kitab dasar. Alasannya jelas: redaksinya singkat, isinya padat, dan cakupannya merangkum seluruh kaidah pokok nahwu. Karena itu, pembahasan tentang Ājurūmiyyah selalu relevan bagi siapa saja yang serius menekuni bahasa Arab.
Definisi dan Latar Belakang
Matn al-Ājurūmiyyah ditulis oleh seorang ulama besar dari Maghrib, Syaikh Muḥammad bin Muḥammad bin Dāwūd al-Shanhājī al-Fāsī. Beliau lebih dikenal dengan nama Ibn Ājurrūm. Dari nama beliaulah kitab ini kemudian disebut Ājurūmiyyah.
Kitab ini termasuk matan singkat yang fokus pada tata bahasa Arab tingkat dasar. Meskipun tidak tebal, kedudukannya sangat penting. Hampir di seluruh dunia Islam, ia dijadikan bacaan awal sebelum beranjak kepada karya-karya nahwu yang lebih luas, seperti Alfiyyah Ibn Mālik atau Imrīṭī. Banyak ulama menilai bahwa siapa yang menguasai Ājurūmiyyah akan lebih mudah menapaki jalan nahwu berikutnya.
Dalam konteks pesantren Nusantara, kitab ini tidak hanya dibaca, tetapi juga dihafal. Tradisi hafalan matan menjadi cara untuk memperkuat ingatan terhadap kaidah. Setelah itu, santri mempelajari syarah-syarahnya yang lebih panjang. Dengan metode ini, Ājurūmiyyah telah membentuk ribuan santri menjadi fasih dalam memahami teks Arab klasik.
Tujuan dan Ruang Lingkup
Penyusunan Ājurūmiyyah tidak lepas dari kebutuhan umat pada panduan praktis dalam belajar bahasa Arab. Ibn Ājurrūm merumuskan kaidah nahwu dengan cara sederhana, agar pelajar pemula bisa cepat menangkap dasarnya tanpa harus tenggelam dalam detail yang rumit. Kitab ini dimaksudkan untuk memberi pegangan awal, supaya siapa pun yang memulai belajar dapat langsung memahami bagaimana kata-kata dalam bahasa Arab saling terkait dalam kalimat.
Fungsi utama kitab ini dapat dirangkum dalam tiga hal. Pertama, sebagai pintu masuk gramatika dasar. Kedua, sebagai fondasi untuk menapaki karya-karya besar seperti Alfiyyah Ibn Mālik. Ketiga, sebagai pegangan cepat bagi santri di pesantren dalam memahami i‘rāb, yaitu cara menentukan posisi kata dalam kalimat. Karena itu, walaupun singkat, kitab ini menjadi landasan kokoh yang mengantarkan pelajar menuju tahap-tahap selanjutnya.
Setelah mengetahui tujuan penyusunan, penting melihat bagaimana struktur isi kitab ini disusun. Dengan memahami urutannya, kita bisa menangkap logika penyampaian ilmu nahwu yang diwariskan melalui matan ini.
Struktur dan Isi Kitab
Jurumiyah disusun dengan sistematika yang jelas. Ia dimulai dari definisi kalām, lalu berlanjut kepada pembahasan i‘rāb, tanda-tanda i‘rāb, hingga rincian tentang isim, fi‘il, dan berbagai jenis kata yang berperan dalam kalimat. Dari bab ke bab, susunannya mengikuti alur yang logis, sehingga pelajar bisa menapaki langkah demi langkah tanpa terputus.
Daftar bab yang termuat di dalamnya mencakup pokok-pokok penting nahwu, berikut daftar isi kitab Jurumiyah :
- Kalam
- Bab I’rab
- Tanda I’rab
- Fashl
- Bab Fi’il
- Bab Isim Yang Dibaca Rafa’
- Bab Fa’il
- Bab Naibul Fa’il
- Bab Mubtada’ dan Khobar
- Bab Amil Nawasih
- Bab Na’at
- Bab Athaf
- Bab Taukid
- Bab Badal
- Bab Isim Yang Dibaca Nashab
- Bab Maf’ul Bih
- Bab Mashdar
- Bab Dzaraf Zaman dan Makan
- Bab Haal
- Bab Tamyiz
- Bab Istitsna
- Bab Laa
- Bab Munada
- Bab Maf’ul Min Ajlih
- Bab Maf’ul Ma’ah
- Bab Isim Yang Dibaca Jer
Susunan ini menegaskan bahwa kitab ini bukan sekadar kumpulan kaidah, tetapi juga peta perjalanan dalam mempelajari nahwu. Dimulai dari definisi paling dasar, lalu bergerak menuju rincian teknis, hingga menutup dengan variasi kedudukan kata dalam kalimat. Dengan demikian, siapa yang menuntaskan kitab ini akan memiliki gambaran utuh tentang bangunan tata bahasa Arab.
Setelah mengetahui susunannya, pembahasan berikutnya akan mengarah pada metode pengajaran serta keutamaan kitab ini dalam tradisi belajar mengajar.
Metode Pengajaran dan Keutamaan
Kitab al-Ajurumiyah punya posisi khusus di dunia pesantren. Hampir semua santri yang belajar ilmu nahwu akan berkenalan dengan kitab ini sejak awal. Biasanya, mereka diminta untuk menghafalkan matannya dulu, baru kemudian membaca syarah atau penjelasan yang lebih panjang. Tradisi hafalan ini sudah berlangsung ratusan tahun, karena memang matannya singkat dan mudah ditangkap oleh ingatan.
Di beberapa tempat, seorang guru akan membacakan teks matan Jurumiyah, lalu menjelaskan maknanya, memberi contoh, dan menyebutkan pengecualian-pengecualian yang ada. Santri diminta mengulang, bahkan terkadang menulis ulang dengan catatan tambahan. Dengan cara seperti ini, pemahaman nahwu tidak hanya ada di kepala, tapi juga melekat dalam praktik sehari-hari.
Keistimewaan kitab ini terletak pada ringkasnya redaksi. Tidak banyak perdebatan atau perbedaan pendapat yang dimasukkan. Yang ada hanyalah inti kaidah. Itulah sebabnya, Jurmiyah sangat mudah dijadikan pegangan awal. Bagi seorang pemula, mempelajari Alfiyah Ibnu Malik langsung tentu terasa berat. Tapi dengan Ajurumiyyah, langkah pertama menjadi ringan dan jelas arah jalannya.
Banyak ulama mengatakan, siapa yang menguasai matan Ajurumiyyah, ia akan lebih mudah memahami kitab-kitab nahwu lainnya. Bahkan ada yang berpesan, “hafalkan Ajurumiyyah sebelum engkau beranjak ke kitab lain.” Sebab, matan ini seperti pondasi. Kalau pondasi sudah kuat, bangunan berikutnya akan lebih kokoh.
Tradisi di Nusantara memperlihatkan hal itu. Kitab Jurumiyah jadi kitab hafalan santri, sebelum mereka naik ke syarah-syarah seperti Syarh al-Makudi atau langsung ke Alfiyah. Tidak sedikit juga yang menjadikan kitab ini sebagai alat uji: siapa yang sudah selesai menghafal dan memahami Ajurumiyyah dianggap sudah siap melangkah ke tingkat berikutnya.
Dengan demikian, keutamaan Ajurumiyyah bukan hanya pada isinya yang padat, tapi juga pada fungsinya sebagai jembatan. Ia mempersingkat jalan belajar nahwu, dari nol sampai tahap menengah, dengan cara yang ringan dan praktis.
Sesudah memahami metode dan keutamaannya, menarik untuk melihat bagaimana kitab kecil ini mendapat perhatian para ulama, sehingga lahirlah ratusan syarah, i‘rab, dan bahkan nadham yang membuat Jurumiyyah tetap hidup sampai sekarang.
Syarah al-Ājurūmiyyah
Kitab al-Ajurumiyah ternyata tidak berhenti sebagai matan tipis saja. Justru dari sinilah lahir ratusan karya turunan. Para ulama menaruh perhatian besar, sehingga muncul berbagai syarah (penjelasan), karya i‘rab (analisis tata bahasa), bahkan nadham (syair). Inilah bukti bagaimana matan singkat bisa memberi pengaruh luas sepanjang zaman.
Beberapa syarah terkenal antara lain:
- al-‘Asymâwî ‘alâ Matn al-Ajurûmiyyah karya al-‘Asymâwî
- ad-Durrah al-Bahiyyah ‘alâ Muqaddimah al-Ajurûmiyyah karya Muhammad bin ‘Umar bin ‘Abdul Qâdir
- ad-Durrah an-Nahwiyyah fî Syarh al-Ajurûmiyyah karya Abû Ya‘la
- Mukhtashar Jiddan karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
Dalam bidang i‘rab, ada beberapa karya yang juga sangat populer:
- I‘râb al-Ajurûmiyyah karya Khâlid bin Abdullah al-Azharî
- al-Fawâid as-Saniyyah fî I‘râb Amtsilah al-Ajurûmiyyah karya Najmuddin bin Muhammad bin Yahyâ al-Halabî
Sementara itu, dalam bentuk nadham (syair), Ajurumiyyah juga melahirkan karya lain yang tidak kalah indah:
- ad-Durrah al-Burhâniyyah fî Nadhm al-Ajurûmiyyah karya Burhânuddîn Ibrâhîm al-Kurdî
- Nadhm al-‘Imrîthî karya Syekh al-‘Imrîthî
Bukan hanya itu, kitab Jurmiyah juga banyak diterjemahkan. Ada terjemah bahasa Indonesia yang beredar luas di pesantren, ada juga versi Jawa pegon untuk memudahkan santri di Nusantara. Di dunia internasional, terjemah bahasa Inggris pun tersedia, sehingga pelajar non-Arab bisa ikut mengakses kitab ini. Dari sini terlihat bagaimana Ajurumiyyah menjadi kitab lintas generasi dan lintas bahasa, tetap relevan meski zaman sudah berubah.
Sesudah mengenal ragam syarah dan turunan Ajurumiyyah, langkah selanjutnya adalah membicarakan bagaimana relevansinya di zaman sekarang, serta tips yang bisa dipakai untuk mempelajarinya dengan lebih efektif.
Relevansi dan Tips Belajar al-Ājurūmiyyah
Sampai di sini kita bisa lihat bahwa kitab Ajurumiyyah bukan sekadar teks klasik yang tersimpan di rak-rak pesantren. Justru ia tetap hidup, dibaca, dikaji, dan jadi pegangan dasar untuk masuk ke dunia nahwu. Banyak santri merasa, kalau belum lewat Jurmiyah, masih ada lubang di pondasi ilmunya. Karena itu, kitab ini ibarat tiket wajib untuk melangkah ke level berikutnya, seperti Alfiyah Ibnu Malik atau kitab-kitab gramatika yang lebih tebal.
Relevansi Ajurumiyyah di zaman sekarang juga terasa saat bahasa Arab jadi kebutuhan global. Mahasiswa yang belajar studi Islam, peneliti yang mengkaji manuskrip, bahkan orang awam yang ingin memahami doa dan ayat dengan benar—semua butuh fondasi nahwu. Jurmiyah, dengan susunan singkatnya, memberi jalan pintas yang padat tapi cukup untuk menguasai dasar-dasarnya.
Lalu bagaimana tips belajar kitab ini? Ada beberapa pengalaman dari para guru dan santri:
- Hafalan matan: sebagian besar pesantren menganjurkan hafal dulu matannya. Singkat dan berima, jadi gampang diingat.
- Baca syarah sederhana: pilih syarah yang ringan dulu, misalnya syarah Asymawi atau penjelasan ringkas ulama lokal.
- Latihan i‘rab: jangan hanya teori. Ambil contoh ayat Al-Qur’an atau teks hadis, coba praktekkan kaidahnya.
- Konsistensi: kuncinya bukan sekali duduk, tapi terus-menerus. Santri di pesantren biasanya setiap hari ada setoran, dan itu yang bikin ilmu nempel.
Dengan cara seperti ini, kitab Ajurumiyyah tidak lagi terasa kering, tapi jadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Apalagi bila dikaitkan dengan bacaan sehari-hari, misalnya saat membaca doa, shalawat, atau ayat, kita jadi lebih peka kenapa suatu kata dibaca rafa‘, nashab, atau jar.
Sesudah membahas relevansinya, tentu perlu kita tutup kajian ini dengan sebuah penegasan: mengapa Jurmiyah tetap penting, dan apa yang bisa kita petik darinya untuk perjalanan ilmu kita sendiri.
Penutup
Dari pembahasan tadi jelas bahwa Ajurumiyyah bukan kitab sembarangan. Meski tipis, ia jadi pintu masuk utama ilmu nahwu, dan sampai hari ini tetap dipelajari di pesantren maupun majelis ilmu di berbagai negeri. Kekuatan kitab ini ada pada kesederhanaannya: ringkas, jelas, dan fokus pada inti kaidah. Dari situ, seorang penuntut ilmu bisa naik ke tangga berikutnya, memahami gramatika Arab dengan lebih luas, dan akhirnya mengaitkan langsung dengan teks Al-Qur’an dan Hadis.
Kalau kita renungkan, perjalanan belajar bahasa Arab lewat Jurmiyah seolah menjadi simbol kesabaran. Tidak ada jalan pintas selain meluangkan waktu, mengulang hafalan, mencoba i‘rab, lalu salah, lalu diperbaiki guru, dan begitu seterusnya. Proses yang kelihatannya sederhana inilah yang menanamkan keteguhan, sebagaimana para santri terdahulu yang tekun duduk di depan kitab kecil ini sebelum melangkah ke kitab-kitab yang lebih besar.
Pada akhirnya, kitab Ajurumiyyah bukan sekadar kumpulan kaidah, tapi juga cermin tradisi ilmiah Islam: disiplin, ketelitian, dan kesinambungan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan: siapa yang menguasai Jurmiyah dengan baik, ia sudah menyiapkan pondasi kokoh untuk perjalanan ilmunya di kemudian hari.
Sampai di sini, mungkin muncul satu pertanyaan pribadi: bagaimana pengalamanmu belajar kitab Jurmiyah? Apakah kamu termasuk yang menghafal matannya di awal, atau lebih suka memahami lewat syarah? Pernahkah kamu merasa kesulitan, lalu akhirnya menemukan pencerahan lewat penjelasan guru? Setiap orang punya cerita sendiri, dan justru di sanalah letak indahnya perjalanan ilmu.