Dalam bahasa Arab, setiap ucapan atau kalimat memiliki makna dan struktur tertentu. Untuk memahami cara kerja bahasa ini, penting bagi pelajar mengenal hubungan antara al-Kalām (perkataan/ucapan) dan al-Jumlah (kesatuan kata atau kalimat). Meskipun keduanya tampak mirip, kajian para ahli bahasa menunjukkan adanya perbedaan dan persamaan yang penting untuk dipahami.
Kajian ini menjelaskan bahwa setiap al-Kalām merupakan al-Jumlah karena tersusun dari beberapa unsur yang membentuk makna utuh, seperti kata kerja beserta pelakunya atau mubtada’ beserta khabarnya. Namun, tidak setiap al-Jumlah otomatis dianggap al-Kalām, karena al-Kalām menuntut kriteria tambahan: ucapan tersebut harus berguna (mufīd) dan dimaksudkan (maqṣūd) untuk menyampaikan makna.
Selain itu, kajian ini menampilkan berbagai pendapat ulama mengenai istilah dan batasan kalām, termasuk pendekatan majaz (kiasan) dan penggunaan istilah jumlah secara luas. Dengan pengantar ini, pembaca akan memperoleh pemahaman awal mengenai bagaimana bahasa Arab membangun makna melalui kalimat dan ucapan, yang menjadi fondasi penting untuk mempelajari Nahwu lebih lanjut.
Keterkaitan Kalam dan Jumlah
Antara Kalam dan Jumlah memiliki keterkaitan.
{وَتَرَادُفُه} – أَي الكَلَامُ – {الجُمْلَةُ} – مِن: أَجْمَلَتِ الشَّيْءَ، إِذَا جَمَعْتَهُ – {عِنْدَ قَوْمٍ}، فَمَفْهُومُهُمَا وَاحِدٌ.
Kata “al-Kalām” dan “al-Jumlah” memiliki konsep yang saling berkaitan. Terjadi keterkaitan makna karena istilah “jumlah” berasal dari kata “ajmalat al-syai’a” (mengumpulkan sesuatu).
Dengan demikian antara Kalam dan Jumlah maknanya hampir sama: keduanya menyampaikan satu kesatuan makna.
-
Al-Kalām → ucapan atau perkataan yang bermakna, bertujuan menyampaikan sesuatu.
-
Al-Jumlah → kesatuan kata atau kalimat yang menyatukan kata-kata menjadi satu makna utuh.
-
Keduanya saling terkait secara makna, karena jumlah (kalimat) terbentuk dari kumpulan kata yang membentuk kalām (ucapan bermakna).
-
Dengan kata lain, setiap kalām adalah jumlah, tetapi istilah “jumlah” menekankan struktur tersusun, sedangkan “kalām” menekankan makna yang dimaksudkan.
Definisi Mutradif dan Pendapat Ulama
وَالْمُتَرَادِفَانِ: هُمَا اللَّفْظَانِ المُخْتَلِفَانِ لَفْظًا المُتَّحِدَانِ مَعْنًى.
Mutaradif adalah dua kata yang berbeda lafaznya tetapi sama maknanya. Ini sama dengan sinonim.
Zamakhsarī dalam Al-Mufaṣṣal dan Al-Andalusī menyatakan keduanya memiliki makna yang sama.
Nadhir al-Jaysh juga memilih pendapat ini. Pendapat yang benar, menurut sebagian ulama, adalah bahwa hubungan ini bersifat umum: setiap kalām adalah jumlah, tetapi tidak semua jumlah adalah kalām (secara makna bahasa).
Persyaratan Umum
وَكُلُّ كَلَامٍ جُمْلَةٌ وَلَا عَكْسَ بِالمَعْنَى اللُّغَوِيِّ.
Secara bahasa, setiap kalām merupakan jumlah (kesatuan kata), tetapi tidak semua jumlah termasuk kalām. Hal ini karena kalām mensyaratkan manfaat (mufīd) bagi pendengar, sedangkan jumlah bisa ada tanpa memenuhi syarat tersebut.
Penerapan dalam Kajian Nahwu
وَعَلَيْهَا فَحَدُّهَا: القَوْلُ المُرَكَّبُ: مِنَ الفِعْلِ مَعَ فَاعِلِهِ، أَوِ المُبْتَدَأِ مَعَ خَبَرِهِ، أَوْ مَا نَزَلَ مَنْزِلَةَ أَحَدِهِمَا كَضَرْبِ مَحْمُودٍ وَمَا قَائِمِ الزَّيْدَانِ.
Definisi jumlah menurut kajian ini adalah ucapan yang tersusun, seperti:
– kata kerja beserta pelakunya,
– mubtada’ beserta khabarnya,
– atau yang setara dengan salah satu di atas (misal: “ḍaraba Maḥmūd” atau “qāma Zaydān”).
Definisi ini membantu pemula memahami struktur dasar kalimat dalam bahasa Arab.
Pendekatan Ulama dalam Penggunaan Istilah
وَجَعَلَ نَاظِرُ الجَيْشِ: إِطْلَاقَهَا عَلَى مَا ذُكِرَ إِطْلَاقًا مَجَازِيًّا، لِأَنَّهُ كَانَ جُمْلَةً قَبْل، فَأُطْلِقَتِ الجُمْلَةُ عَلَيْهِ بِاعْتِبَارِ مَا كَانَ.
Nadhir al-Jaysh berpendapat bahwa penggunaan istilah jumlah untuk kalām kadang bersifat majaz (kiasan), karena sebelumnya kalimat itu sudah merupakan suatu jumlah. Dengan demikian, istilah jumlah diberikan pada kalām untuk menekankan bahwa ia tersusun dari beberapa unsur.
Kesimpulan
Hubungan antara al-Kalām dan al-Jumlah menunjukkan bahwa setiap kalām merupakan suatu kesatuan (jumlah), tetapi tidak setiap jumlah memenuhi kriteria kalām.
Kalām mensyaratkan manfaat dan tujuan komunikasi, sedangkan jumlah bisa ada tanpa niat tersebut. Pemahaman ini menjadi dasar penting dalam studi Nahwu dan membantu pemula memahami struktur kalimat Arab, mulai dari kata kerja, mubtada’, khabar, hingga struktur setara lainnya.