المركب الإسنادي أو الجملة
Al-murakkab al-isnadi merupakan salah satu bagian dari Murakkab yang jumlahnya ada enam.
Murakab Isnadi juga disebut sebagai tarkib isnadi atau jumlah adalah bentuk susunan kata yang di dalamnya terjadi hubungan isnad — yaitu penetapan suatu hukum terhadap sesuatu.
Sebagai contoh, ketika kamu mengatakan زُهيرٌ مجتهدٌ (Zuhair rajin), maka kamu telah menetapkan sifat rajin kepada Zuhair. Penetapan atau penyandaran inilah yang disebut isnad.
Kata yang diberi hukum disebut musnad ilayh, sedangkan kata yang menjadi hukum disebut musnad. Maka, dalam contoh di atas:
- زُهيرٌ adalah musnad ilayh (yang dikenai hukum).
- مجتهدٌ adalah musnad (yang menjadi hukum).
Dengan demikian, murakkab isnadi adalah susunan yang terdiri dari dua unsur: musnad dan musnad ilayh. Susunan ini juga disebut jumlah karena membentuk kalimat bermakna lengkap. Contohnya: الحلمُ زينٌ (kesabaran adalah perhiasan) dan يُفلحُ المجتهدُ (orang rajin akan beruntung).
Dalam contoh pertama, الحلمُ adalah musnad ilayh karena dikenai hukum الزين.
Sebaliknya, الزين adalah musnad karena menjadi sifat yang disandarkan.
Demikian pula pada contoh kedua, المجتهدُ menjadi musnad ilayh dan يُفلحُ adalah musnad.
Jenis-jenis Musnad Ilaih
Kedudukan musnad ilayh dapat muncul dalam beberapa bentuk:
- Sebagai fa‘il (subjek pelaku), seperti جاء الحق وزهق الباطل.
- Sebagai na’ib al-fa‘il (pengganti pelaku), seperti يُعاقب العاصون ويُثاب الطائعون.
- Sebagai mubtada’ dalam kalimat nominal, seperti الصبرُ مفتاحُ الفرجِ.
- Sebagai isim dari fi‘l naqis, seperti وكان اللهُ عليماً حكيماً.
- Sebagai isim huruf yang beramal seperti “ليس”, seperti ما زهيرٌ كَسولا.
- Sebagai isim “إنّ” dan sejenisnya, seperti firman Allah
{إن اللهَ عليمٌ بذات الصدور}
- Sebagai isim “لا” yang menafikan jenis, seperti
{لا إلهَ إلا اللهُ}
Jenis-jenis Musnad
Sementara itu, musnad dapat berupa:
- Fi‘il (kata kerja), seperti firman Allah
{قد أفلحَ المؤمنون}
- Isim fi‘l (kata kerja berbentuk isim).
- Khabar dari mubtada’ atau dari fi‘l naqis, seperti الحق أبلجُ (kebenaran itu jelas).
- Isim jamid (kata benda tetap) yang mengandung makna sifat, seperti الحقُ نورٌ (kebenaran adalah cahaya) atau القائمُ به أسدٌ (yang menegakkannya adalah singa).
Kedua contoh terakhir dapat ditakwilkan dengan makna sifat:
“Kebenaran itu bersinar seperti cahaya, dan orang yang menegakkannya gagah seperti singa.”
Kalām
Kalām (الكلام) adalah jumlah yang memberikan makna sempurna dan berdiri sendiri.
Dengan kata lain, Kalam adalah kalimat yang cukup secara makna tanpa membutuhkan tambahan unsur lain.
Contohnya: رأسُ الحكمةِ مخافةُ الله (pokok kebijaksanaan adalah takut kepada Allah), فاز المتقون (orang bertakwa menang), dan من صدق نجا (siapa yang jujur, selamat).
Jika kalimat tidak memberikan makna yang sempurna, maka belum disebut kalām. Contohnya: إن تجتهد في عملك (jika engkau bersungguh-sungguh dalam pekerjaanmu).
Kalimat ini belum sempurna karena jawab syaratnya tidak disebutkan.
Namun, jika dilengkapi — إن تجتهد في عملك تنجح — maka ia menjadi kalām sempurna.
Kesimpulan
Dari pembahasan ini, kita memahami bahwa murakkab isnadi adalah inti dari pembentukan kalimat dalam bahasa Arab, karena di dalamnya terjadi proses penetapan makna antara musnad dan musnad ilayh.
Sementara itu, kalām adalah hasil akhir dari hubungan tersebut ketika makna menjadi utuh dan berdiri sendiri.
Dengan memahami keduanya, seseorang akan lebih mudah mengenali struktur kalimat Arab dan menentukan i‘rab dengan benar.